Monday, 25 April 2016

Diagnostik II

Hallo apa kabar? heheh
Kali ini saya akan membahas lagi tentang Psikodiagnostik..

Kebetulan ini adalah tugas juga dari dosen saya :)

Tes Intelegensi
Adalah tes untuk mengetahui sejauh mana kemampuan umum seseorang untuk memperkirakan apakah suatu pendidikan atau pelatihan tertentu dapat diberikan kepadanya. Nilai tes intelegensi seringkali dikaitkan dengan umur dan menghasilkan IQ untuk mengetahui bagaimana kedudukan relative orang yang tersebut dengan kelompok orang sebayanya.

Beberapa bentuk tes inteligeni antara lain:
1.       Tes inteligensi pada anak-anak (tes Binet, WISC, WPPSI, CPM, CFIT skala 1&2)
2.      Tes inteligensi pada remaja/dewasa (IST, WAIS, SPM, APM, CFIT skala 3)
3.      Tes inteligensi pada tuna rungu (SON)


               Macam-macam tes intelegensi yaitu :

IST (Intelligenz Struktur Test)
Berfungsi untuk memahami diri atau pengembangan pribadi, dan merencanakan pendidikan seseorang; terdiri dari 9 subtes yang didasarkan pada anggapan bahwa strutktur inteligensi tertentu cocok dengan pekerjaan ataupun pendidikan.

CFIT (Culture Fair Intelligence Test)
Berfungsi untuk mengukur intelegensi individu dalam cara yang direncanakan untuk mengurangi pengaruh percakapan verbal, iklim budaya, tingkat pendidikan.

STM (Standard Progresive Matrices)
Merupakan tes inteligensi yang dapat disajikan secara kelompok maupun individual. Materi tes ini berupa gambar dengan sebagian yang terpotong. Tugas subyek adalah mencari potongan yang cocok untuk gambar tersebut dari alternatif potongan-potongan yang sudah disediakan. Dari tes Raven tidak ditemukan IQ seseorang melainkan taraf inteligensi yang dibagi dalam grade 1 sampai grade V yang ditentukan berdasar persentil.

SB (Stanford Binet)
Berfungsi untuk mengukur kemampuan mental seseorang.
Alfred Binet menggambarkan inteligensi sebagai sesuatu yang fungsional, inteligensi menurut Binet atas tiga komponen yaitu kemampuan untuk mengarahkan pikiran atau tindakan, kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah dilaksanakan dan kemampuan untuk mengkritik diri sendiri. Tes Binet yang digunakan di Indonesia saat ini adalah Stanford Binet Intelligence Scale Form L-M.

Weschler
Wechsler menyusun tes untuk anak umur 8 – 15 tahun, yaitu Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC) pada tahun 1949. Pada tahun 1963 dipublikasikan Wechsler Preschool and Primary Scale of Intelligence (WPPSI) untuk ank usia 4 – 6,5 tahun.
WPPSI: Verbal (Informasi, perbendaharaan kata, hitungan, persamaan, pengertian, rentangan angka), Performance (rumah hewan, melengkapi gambar, mazes, desain geometri, rancangan balok, rumah hewan ulangan).
WISC: Verbal (informasi, pengertian, hitungan, persamaan, perbendaharaan kata, rentangan angka), Performance (melengkapi gambar, mengatur gambar, rancangan balok, merakit obyek, simbol, mazes).
WAIS: Verbal (informasi, pengertian, hitungan, persamaan, rentangan angka, perbendaharaan kata), Performance (simbol angka, melengkapi gambar, rancangan balok, mengatur gambar, merakit obyek).

SON (Snijders Oomen Non-verbal Scale)
Snijders Oomen Non Verbal Scale (SON). Merupakan tes inteligensi yang non verbal digunakan untuk usia 3-16 tahun, normal dan tunarungu. SON dirancang sejak tahun 1939-1942, di Amsterdam dan kemudian dilakukan revisi-revisi.


Tes kemampuan kerja : 
Adalah tes Kreapelin merupakan hasil dari ciptaan Emilie Kraepelin dia adalah seorang Psikiater dari Jerman, adapun proses pembuatannya dari tahum 1856-1926. Alat ini dapat tercipta atas dasar pemikiran dari faktorfaktor yang merupakan kekhasan dari sensori sederhana, sensori motor, perseptual dan tingkah laku.

Tes pauli :
Memiliki ciri antara lain seperti penjumlahan yang mengalir, angka ditulis satuan, hasil penjumlahan tidak dijumlahkan dengan angka berikutnya. Tujuan tes ini adalah mengetahui batas perbedaan kondisi individu, melihat prestasi dengan akurat, dan mengetahui sikap kerja terhadap prestasi.
M


Tes Non-Proyektif
Pada umumnya merupakan alat ukur kepribadian yang tidak menggunakan teknik proyektif, namun menggunakan bentuk inventory.

Jenis-jenis tes non-proyektif yang berbentuk dalam inventory antara lain:
           
- Sixteen PF (Sixteen Personality Factors Questionaire) disusun oleh Raymont B. Cattel. 16 PF mempunyai lima macam bentuk yaitu A, B, C, D, E, tes ini dapat dikenakan untuk mereka yang telah berusia 16 tahun ke atas. Bentuk A, B, C, D dirancang untuk mereka yang tingkat pendidikan dan atau kemampuan membacanya rendah.

- NSQ (Neurotic Scale Questionaire) yang disusun oleh Ivan H. Scheier dan R. B. Cattel. Yang diungkap dalam tes ini adalah kecenderungan neurotik dan tingkat neurotiknya.

- MMPI (Minnesota Multiphasic Personality Inventory) disusun untuk mengungkap karakteristik umum dari abnormalitas/ketidakmampuan psikologis. Inventory ini terdiri dari 550 pernyataan afi rmative dengan pilihan respon benar, salah atau tidak dapat mengatakan, untuk individu berusia 16 tahun ke atas. Pernyataan item meliputi; kesehatan, simtom psikosomatis, gangguan neurologis. Gangguan motorik, seksual, religius, politik, sikap sosial, pendidikan, pekerjaan, keluarga dan perkawinan serta manifestasi perilaku neurotik atau psikotik seperti obsesif kompulsif, delusi, halusinasi, fobia, sadistic dan masochis.
           
- CAQ (Clinical Analysis Questionaire), tes ini layak digunakan untuk usia remaja sampai dengan dewasa dan akan menggambarkan kondisi klinis seseorang.
           
- SSCT (Sach Sentence Completion Test) merupakan tes yang dikembangkan oleh David Sach, item-itemnya berjumlah 60 berbentuk kalimat belum selesai dan harus diselesaikan oleh testee dan dari respon testee akan dapat diketahui adanya hambatan sosial dari individu dengan agents of relation-nya, yaitu kelompok/situasi yang memiliki relasi dengan kehidupan individu.
           
- PAPI (The Personality Preference Inventory) merupakan tes yang dibuat oleh Dr. Max Martin Kostick (1960-an). Tes ini merupakan pemeriksaan yang khusus berkaitan dengan kerja, serta tes ini berusaha untuk menjelaskan serta menjawab pertanyaan terkait permasalahan kepribadian inheren. Gaya bekerja seseorang dan melihat kemampuan seseorang dalam mengatasi dinamika dalam kelompok, terutama karyawan dalam perusahaan. PAPI memiliki dua bentuk tes, yakni PAPI-I (Ipsatif) yang terdiri dari 90 pernyataan, dan PAPI-N (Normatif) yang terdiri dari 126 pernyataan.
           
- NEO-PI-R (NEO-Personality Inventory Revised) merupakan sebuah alat ukur yang dikembangkan oleh Costa dan McCrae dengan cara menggunakan kuisioner yang dirancang untuk mengukur Big Five Traits (OCEAN). NEO-PI-R terdiri dari 240 item dan bersifat cross cultural (sehingga mudah untuk direplikasikan), bertujuan untuk mengukur kecenderungan emosi, hubungan interpersonal, keterbukaan terhadap pengalaman baru, kecenderungan untuk tunduk pada orang lain, dan kemampuan individu dalam berorganisasi.
           
- DISC (Dominance, Influence, Steadiness, Complience) merupakan dibuat olehWilliam Moulton Marston, DISC pertama kali digunakan untuk kepentingan militer dan secara luas digunakan sebagai bagian dalam proses penerimaan tentara AS pada tahun-tahun menjelang Perang Dunia II. Setelah keandalannya terbukti, kemudian DISC secara bertahap dipakai untuk kepentingan rekrutmen yang lebih umum. Manfaat DISC adalah memberikan pemahaman tentang diri seseorang terkait dengan kelebihan dan kekurangan dirinya (secara garis besar untuk memahami tipe kepribadian), perencanaan masa depan yang lebih baik, serta penempatan yang sesuai dengan keunikan seseorang.
           
- EPPS (Edward Personality Preference Schedule) merupakan tes kepribadian yang mengukur tingkat kepribadian seseorang. Tes ini dikembangkan menurut teori kepribadian H. A Murray, yang mencakup 15 kebutuhan yang harus dimiliki manusia. EPPS ini pada umumnya dikategorikan sebagai power-test, yaitu tes yang tidak dibatasi waktu dalam pengerjaannya.

- MBTI (Myers-Briggs Personality Type Indicator) merupakan tes yang dilakukanuntuk mengetahui tipe-tipe kepribadian seseorang dalam lingkungannya. Tes ini dikembangkan oleh Katherine Cook Brigss dan putrinya, Isabel Brigss Myers. Tes MBTI bertujuan secara khusus untuk mengklasifikasikan orang-orang menurut tipe-tipe kepribadian yang spesifik yang kini menjadi rujukan bagi berbagai organisasi dalam melakukan tes bagi pesertanya. Kuesioner ini didasarkan pada empat skala, yang menghasilkan enam belas kemungkinan kombinasi atau tipe-tipe kepribadian yang luas. MBTI bersandar pada empat dimensi utama yang saling berlawanan. Masing-masing memiliki sisi positif dan sisi negatif. Berikut skala kecenderungan MBTI, yaitu:

ekstrovert (E) vs introvert (I), sensing(S) vs intuition (I), thinking (T) vs feeling (F), dan judging (J) vs perceiving (P).


Tuesday, 5 April 2016

Psikodiagnostik

Hallo semua! 
Udah lama gak nulis disini lagi nih.
Semoga tulisan saya gak ngebosenin ya buat dibaca :)

Kali ini saya akan menulis tentang sejarah dan tes psikodiagnostik.
Kebetulan ini tugas dari mbak tyas juga, dosen saya yang paling baik heheh


Sebelumnya kita lihat dulu ya anak kucing yang cute ini!


Okay setelah kita melihat anak kucing yang cute ini :3 saya akan mulai membahas tentang sejarah psikodiagnostik.

Apa Sih Sejarah Psikodiagnostik Itu?
Penggunaan psikodiagnostik menurut sejarahnya memang telah digunakan dalam berbagai periode waktu. Hal ini dimulai tahun 2200 sebelum masehi di Cina sampai dengan penggunaan yang lebih modern yaitu pada abad 19.

Pada tahun 2200 SM, memang belum ada istilah psikodiagnostik untuk menjelaskan berbagai hal yang dilakukan untuk melakukan seleksi terhadap pegawai sipil kerajaan. Namun demikian proses seleksi untuk memilih pegawai negeri sipil, merupakan suatu penjelasan awal bahwa psikodiagnostik telah digunakan sejak bertahun-tahun yang lalu.
Menurut Dubois (1970 dalam Terlack) bahwa pada tahun 2200 sebelum masehi di Cina memiliki sebuah sistem ujian untuk memilih pegawai sipil. Ujian tersebut meliputi pengetahuan tentang ilmu klasik, masalah administrasi dan manajerial yang ingin dipecahkan. Disini seorang kandidat harus memecahkan masalah yang berbelit-belit dengan menggunakan pengetahuannya tentang ilmu klasik. Sedangkan untuk pegawai militer, selain hal-hal tersebut diatas juga diadakan ujian mengenai pengetahuan kemampuan bertempur dan membunuh lawan. Sementara itu, selain menguji pengetahuannya, kekaisaran Cina juga menguji kebugaran fisiknya, untuk memilih posisi yang penting.
Sementara itu pada jaman dinasti Han (200 SM dampai 200 M) ujian tulis digunakan pada seleksi bidang legislatif, militer, pertanian, perpajakan dan geografi. Sistem ujian telah disusun dan berisi aktivitas yang berbeda, seperti tinggal dalam sehari semalam dalam kabin untuk menulis artikel atau puisi, hanya 1 % sampai dengan 7 % yang diijinkan ikut ambil bagian pada ujian tahap kedua yang berakhir dalam tiga hari tiga malam. Kelompok yang tersisa ini menjadi semakin berkurang jumlahnya, karena 1 % sampai 10% akan menuju ibukota untuk mengikuti seleksi akhir. Jenis tes umum ini digunakan di Cina sampai awal abad 20.
Menurut Gregory (1992), seleksi ini keras namun dapat memilih orang yang mewakili karakter orang Cina yang kompleks. Sebagian dari sistem ini diadaptasi dari cara militer Perancis dan Inggris. Tugas-tugas militer yang berat cukup dapat dilakukan dengan baik oleh para pegawai yang diterima dalam seleksi fisik dan psikologi yang intensif selama ini, walaupun tidak ada penelitian psikologi yang secara empirik yang menyatakan bahwa prosedur seleksi ini valid.
Dan sampai abad ke 19, perkembangan psikodiagnostik berkembang secara signifikan dan modern.
Dalam sejarah singkat perkembangan tes psikologi pada abad 19.
Psikodiagnostik adalah sejarah utama dari tes psikologi atau yang juga disebut psikometri. Kini, tes psikologi berisi satu set model matematis dengan satu atau beberapa item pertanyaan terhadap subyek penelitian. Selain itu tes itu juga dapat menggolongkan manusia berdasarkan karakteristiknya.
Tokoh yang cukup berperan adalah Spearman dan Pearson. Mereka sangat tertarik pada pengukuran intelegensi dan berhasil menemukan perhitungan korelasi statistik.
Sementara Weber dan Fechner (1830) adalah penemu terbesar hukum-hukum psychophysical. Weber membandingkan hubungan matematis antara persepsi dengan obyek riil pada panjang, lebar, dan beratnya. Sedangkan Fechner melengkapinya dengan pengukuran persepsi subyektif. Tahun 1860 Fechner memformulasikan hipotesis tentang perbedaan persepsi. Selain itu dia juga mengembangkan teori analisis kesalahan pada tes intelegensi pada 1890-1960, yang kemudian juga dikembangkan Gulliksen dengan teori tes mentalnya.
Lord dan Novick juga merupakan tokoh yang melengkapi teori tes klasik. Bukunya berjudul “Statistical Theories on Mental”. Goldstein dan Wood juga mengkritik tes psikologi modern yang lebih kepada teori statistik bukan modelling.
Perkembangan selanjutnya dibuatlah suatu standar internasional yang dibuat di Amerika Serikat berjudul “Standards for Psychological and Educational Test” yang digunakan sampai sekarang. Kini tes psikologi semakin mudah, praktis, dan matematis dengan berbagai macam variasinya namun tanpa meninggalkan pedoman klasiknya.

Dalam perkembangannya kini :
Herman Rorschach adalah orang pertama mengenalkan psikodiagnostik untuk memenuhi kebutuhan klinis yang bertitik tolak pada kepentingan abnormalitas melalui ink blot test.

Diagnosis “arti sempit”: Suatu metode untuk menentukan gangguan-gangguan psikis pada individu dengan maksud untuk memberikan treatmen (perlakuan) yang tepat sesuai gangguan yang dialami.
Diagnosa: suatu ilmu pengetahuan untuk mengetahui, untuk mengenal hal-hal yang berhubungan dengan kejiwaan seseorang.
Prognosa: pengontrolan setelah dilakukan diagnosa, memprediksi, memberikan ramalan untuk masa yang akan datang.
Interview: untuk menentukan kecenderungan perilaku saat itu.
Tes : Diadakan dengan tujuan untuk mendiagnosis berbagai macam kemungkinan melalui tes-tes yang sesuai sehingga akan mendapat data/informasi mengenai potensi/gangguan client.

Kegunaan Psikodiagnostik:
  • klinis: untuk memeriksa, meneliti potensi pada klien (fokusnya pada usaha mendeteksi gangguan psikis). Di rumah sakit & pusat-pusat kesehatan mental.
  • legal setting (hukum): membantu proses peradilan agar supaya permasalahan psikologis yang dialami klien bisa menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Di peradilan, LP, tempat-tempat rehabilitasi.
  • educational, vocational selection: pemilihan jurusan, rekruitmen, pemilihan pekerjaan.
  • Research setting (penelitian): merupakan pengembangan termasuk up date alat2 penelitian. Di Perguruan Tinggi.

Tujuan Psikodiagnostik:
  1. Memperoleh informasi yang sebanyak-banyaknya; dalam aspek perkembangan intelektual, kepribadian, sosial, emosi. Dapat memahami kebutuhan individu secara optimal.
  2. Mengetahui kelemahan, keunggulan, agar kehidupannya dapat dimaksimalkan.
  3. Pemahaman terhadap individu merupakan sarana yang baik bagi keluarga untuk memberikan perlakuan yang tepat.
  4. Untuk penempatan pendidikan dan pekerjaan secara tepat.
  5. Untuk kepentingan bimbingan konseling.
  6. Sebagai bahan proses terapi bila dibutuhkan.

Kedudukan psikodiagnostik dalam psikologi:
  1. Psikologi differensial: membicarakan faktor-faktor yang menyebabkan adanya perbedaan individu dalam kelompoknya. (umur, lingkungan, pembawaan).
  2. Psikologi perkembangan: membicarakan rentang kehidupan manusia. (tes inteligensi).
  3. Psikologi industri: membantu dalam dalam rekruitmen, seleksi, placement.
  4. Penggunaan statistik: psikodiagnostik tidak berarti apa2 tanpa statistik.

PSIKODINAMIKA: (kumpulan anlalisis dari diagnosa).
  • Pemahaman mengenai dinamika kepribadian individu sangat diperlukan untuk menyusun sistematika dari hasil diagnostik yang telah dilakukan.
  • Kuat lemahnya ego yang dimiliki individu:→grafis
  • Kemampuan menyesuaikan diri dalam masyarakat. (BAUM, DAM, HTP)
Proses dalam psikodiagnostik:
1. Proses Informal: tanpa ada proses prosedural, tidak obyektif karena hanya mengandalkan impresi (pesan) sesaat, dan intuisi.
Jenis kesalahan:
1) Penilai:
  • desas-desus: menilai melalui omongan orang lain.
  • Hello efek: kesan muncul pada saat sikap yang tampak pada orang yang akan dinilai. (senyum/cemberut, dll).
  • Stereotype: berhubungan dengan unsure SARA →prasangka.
  • Ingin memberikan kesan sikap lunak dan penuh toleransi: akibatnya ketepatan penilaian menjadi berkurang.
  • Mood (suasana hati): suasana gembira / sedih menyebabkan ketidak tepatan oleh penilai.
  • Proyeksi: proses penilaian ini dilator belakangi oleh pengalaman sebelumnya.
2) Yang dinilai:
  • karakteristik kepribadian orang pendiam: penuh topeng, manipulatif
  • kecenderungan menampilkan kesan yang sebaik-baiknya, sikap pura-pura
3) Situasi lingkungan:
  • masalah waktu pelaksanaan yang tidak tepat
  • tempat pelaksanaan
  • fasilitas yang tersedia (alat tes)
  • polusi (suasana bisisng, udara berdebu)
2. Proses Formal: adalah segala kegiatan yang sistematis dan terarah dalam proses assessment (pengumpulan data) dengan kendali yang cukup ketat atas situasi assesmentnya sehingga diperoleh data yang obyektif.
A. Pendekatan klinis: penggaliannya melalui wawancara yang terstruktur, interview yang mendalam, observasi secara langsung, dokumen pribadi. Perlu juga diberikan tes proyektif berupa gambar. → untuk landasan program terapi.
B. Pendekatan obyektif: penggalian potensi individu menggunakan alat-alat pemeriksaan.
Metode dan Teknik Psikodiagnostik:
Dalam melakukan suatu diagnosa psikologis ada beberapa urutan kerja yang harus diperhatikan:
1. Mengumpulkan dan mendapatkan data
2. Menganalisis data.
3. Mengambil kesimpulan, meliputi deskripsi subjek beserta diagnosa dan prognosa.

Garis Besar Penggunaan Psikodiagnostik:
a. Observasi: (partisipan/non)
b. Pengumpulan bahan-bahan permainan (barang pribadi, puisi, gambar)
c. Riwayat hidup:
- auto anamnesa : dari dalam diri individu
- allo anamnesa : dari luar diri sendiri
d. Angket / kuesioner
e. Wawancara
f. Test

Klasifikasi/Pengelompokan Tes Psikologis
Tes ini sangat banyak jenisnya sehingga untuk mendapatkan orientasi yang baik mengenai tes perlu dilakukan klasifikasi. Untuk membuat klasifikasi tes ditinjau dari beberapa segi. Dilihat dari banyaknya subjek yang dites, bisa dibedakan atas :
  1. Tes individual adalah jenis tes yang hanya dapat melayani untuk seseorang individu saja dalam satu waktu.contohnya test WISC dan WAIS.
  2. Tes kelompok adalah tes yang dapat melayani sekelompok testi dalam suatu waktu. Tes kelompok ini lebih ekonomis jika dibandingkan dengan tes individual sebab dalam waktu singkat dapat diperoleh banyak individu yang dites contohnya adalah ulangan-ulangan yang diberikan oleh guru, tes standar progresif matriks dan sebagainya.
 Dari segi waktu yang disediakan dibedakan atas :
  1. Tes kecepatan (speed test) yaitu tes yang mengutamakan kecepatan waktu dalam mengerjakan tes atau waktu untuk mengerjakan tes sangat terbatas. Contoh jenis tes ini arithemitical reasoning, tes klerikal dan sebagainya.
  2. Tes kemampuan (power test) yaitu jenis tes yang dimaksudkan untuk mengetahui sampai dimana kemampuan seseoarng dalam mengerjakan tes. Soal waktu tidak dituntut terlalu ketat. Contoh jenis tes ini general comprehension test, tes SPM dan sebagainya.
Dari segi materi tes dibedakan atas :
  • Tes verbal adalah tes yang menggunakan bahasa (baik lisan maupun tulisan). Karena itu orang yang dites harus bias membaca dan menulis.
  • Tes non verbal adalah tes yang item-itemnya tidak terdiri dari bahasa,tetapi terdiri dari bahasa tetapi terdiri dari gambar-gambar,garis-garis dan sebagainya. Contoh jenis tes ini adalah tes CFIT, tes SPM, tes Army Beta dan sebagainya.

Dari segi aspek mental yang dites dibedakan atas :
  •     Tes kepribadian seperti tes Rorschah, wartegg dan sebagainya
  •     Tes intelegensi
  •     Tes bakat
  •     Tes prestasi belajar
Dari segi penciptanya :
  •     Tes Rorschah
  •     Tes Binet-simon
  •     Tes Wechsler
  •     Tes kraeppelin
  •     Tes kuder dan sebagainya


    Jenis-jenis Tes Psikologi
     1. Test WAIS (WSeeschler Intellegence Scale for Children)
      Merupakan test yang digunakan untuk mengukur intelegensi seseorang dengan rentang usia 16-74 tahun. Kegunaan yaitu untuk Mental Deterioration (MD) yang  mengalami penurunan perkembangan mental.
     2. Test CFIT (Culture Fair Intellegence Test)
      Digunakan untuk mengukur tingkat kecerdasan seseorang. Untuk membedakan tingkatan intelegensi, penetuan terapi yang benar serta program pendidikan sesuai karakter anak, dan hal-hal kepegawaian.
     3. Test DAT (Differntial Applitude Test)
      Test ini untuk mengukur bakat pada seseorang. Dapat membantu seseorang dalam membuat keputusan terhadap rencana-rencana baik kerja maupun sekolah, dapat pula untuk mendiagnosa masalah-masalah pendidikan pada anak.
     4. Test Kuder Preference Record Vocational
      Digunakan untuk mengukur minat seseorang sehingga bisa ditentukan kualifikasi jabatan yang sesuai dengan minat.
     5. Test Lee-Thorpe
      Merupakan test yang digunakan untuk membantu individu dalam inventori minat jabatannya.
     6. Test EPPS (Edward Personality Preference Schedule)
      Merupakan test yang digunakan untuk mengukur kepribadian seseorang.
     7. Test Standford Binet
      Merupakan test intelegensi yang sasaran utamanya adalah anak-anak dan balita. Dengan test ini, dapat diketahui usia mental seseorang, termauk juga untuk mengetahui indikasi kelainan mental dari tingkatan IQ yang rendah dan juga untuk mengetahui tingkat kemunduran mental yang dialami orang dewasa.

Sekian yang saya bisa tulis diblog ini, jika ada yang salah ataupun kurang baik tolong comment yaa :)