Hallo semua!
Udah lama gak nulis disini lagi nih.
Semoga tulisan saya gak ngebosenin ya buat dibaca :)
Kali ini saya akan menulis tentang sejarah dan tes psikodiagnostik.
Kebetulan ini tugas dari mbak tyas juga, dosen saya yang paling baik heheh
Sebelumnya kita lihat dulu ya anak kucing yang cute ini!
Okay setelah kita melihat anak kucing yang cute ini :3 saya akan mulai membahas tentang sejarah psikodiagnostik.
Apa Sih Sejarah Psikodiagnostik Itu?
Penggunaan psikodiagnostik menurut sejarahnya memang telah digunakan dalam berbagai periode waktu. Hal ini dimulai tahun 2200 sebelum masehi di Cina sampai dengan penggunaan yang lebih modern yaitu pada abad 19.
Penggunaan psikodiagnostik menurut sejarahnya memang telah digunakan dalam berbagai periode waktu. Hal ini dimulai tahun 2200 sebelum masehi di Cina sampai dengan penggunaan yang lebih modern yaitu pada abad 19.
Pada tahun 2200 SM, memang belum ada istilah psikodiagnostik untuk menjelaskan berbagai hal yang dilakukan untuk melakukan seleksi terhadap pegawai sipil kerajaan. Namun demikian proses seleksi untuk memilih pegawai negeri sipil, merupakan suatu penjelasan awal bahwa psikodiagnostik telah digunakan sejak bertahun-tahun yang lalu.
Menurut Dubois (1970 dalam Terlack) bahwa pada tahun 2200 sebelum masehi di Cina memiliki sebuah sistem ujian untuk memilih pegawai sipil. Ujian tersebut meliputi pengetahuan tentang ilmu klasik, masalah administrasi dan manajerial yang ingin dipecahkan. Disini seorang kandidat harus memecahkan masalah yang berbelit-belit dengan menggunakan pengetahuannya tentang ilmu klasik. Sedangkan untuk pegawai militer, selain hal-hal tersebut diatas juga diadakan ujian mengenai pengetahuan kemampuan bertempur dan membunuh lawan. Sementara itu, selain menguji pengetahuannya, kekaisaran Cina juga menguji kebugaran fisiknya, untuk memilih posisi yang penting.
Sementara itu pada jaman dinasti Han (200 SM dampai 200 M) ujian tulis digunakan pada seleksi bidang legislatif, militer, pertanian, perpajakan dan geografi. Sistem ujian telah disusun dan berisi aktivitas yang berbeda, seperti tinggal dalam sehari semalam dalam kabin untuk menulis artikel atau puisi, hanya 1 % sampai dengan 7 % yang diijinkan ikut ambil bagian pada ujian tahap kedua yang berakhir dalam tiga hari tiga malam. Kelompok yang tersisa ini menjadi semakin berkurang jumlahnya, karena 1 % sampai 10% akan menuju ibukota untuk mengikuti seleksi akhir. Jenis tes umum ini digunakan di Cina sampai awal abad 20.
Menurut Gregory (1992), seleksi ini keras namun dapat memilih orang yang mewakili karakter orang Cina yang kompleks. Sebagian dari sistem ini diadaptasi dari cara militer Perancis dan Inggris. Tugas-tugas militer yang berat cukup dapat dilakukan dengan baik oleh para pegawai yang diterima dalam seleksi fisik dan psikologi yang intensif selama ini, walaupun tidak ada penelitian psikologi yang secara empirik yang menyatakan bahwa prosedur seleksi ini valid.
Dan sampai abad ke 19, perkembangan psikodiagnostik berkembang secara signifikan dan modern.
Dalam sejarah singkat perkembangan tes psikologi pada abad 19.
Psikodiagnostik adalah sejarah utama dari tes psikologi atau yang juga disebut psikometri. Kini, tes psikologi berisi satu set model matematis dengan satu atau beberapa item pertanyaan terhadap subyek penelitian. Selain itu tes itu juga dapat menggolongkan manusia berdasarkan karakteristiknya.
Tokoh yang cukup berperan adalah Spearman dan Pearson. Mereka sangat tertarik pada pengukuran intelegensi dan berhasil menemukan perhitungan korelasi statistik.
Sementara Weber dan Fechner (1830) adalah penemu terbesar hukum-hukum psychophysical. Weber membandingkan hubungan matematis antara persepsi dengan obyek riil pada panjang, lebar, dan beratnya. Sedangkan Fechner melengkapinya dengan pengukuran persepsi subyektif. Tahun 1860 Fechner memformulasikan hipotesis tentang perbedaan persepsi. Selain itu dia juga mengembangkan teori analisis kesalahan pada tes intelegensi pada 1890-1960, yang kemudian juga dikembangkan Gulliksen dengan teori tes mentalnya.
Lord dan Novick juga merupakan tokoh yang melengkapi teori tes klasik. Bukunya berjudul “Statistical Theories on Mental”. Goldstein dan Wood juga mengkritik tes psikologi modern yang lebih kepada teori statistik bukan modelling.
Perkembangan selanjutnya dibuatlah suatu standar internasional yang dibuat di Amerika Serikat berjudul “Standards for Psychological and Educational Test” yang digunakan sampai sekarang. Kini tes psikologi semakin mudah, praktis, dan matematis dengan berbagai macam variasinya namun tanpa meninggalkan pedoman klasiknya.
Dalam perkembangannya kini :
Herman Rorschach adalah orang pertama mengenalkan psikodiagnostik untuk memenuhi kebutuhan klinis yang bertitik tolak pada kepentingan abnormalitas melalui ink blot test.
Diagnosis “arti sempit”: Suatu metode untuk menentukan gangguan-gangguan psikis pada individu dengan maksud untuk memberikan treatmen (perlakuan) yang tepat sesuai gangguan yang dialami.
Diagnosa: suatu ilmu pengetahuan untuk mengetahui, untuk mengenal hal-hal yang berhubungan dengan kejiwaan seseorang.
Prognosa: pengontrolan setelah dilakukan diagnosa, memprediksi, memberikan ramalan untuk masa yang akan datang.
Interview: untuk menentukan kecenderungan perilaku saat itu.
Tes : Diadakan dengan tujuan untuk mendiagnosis berbagai macam kemungkinan melalui tes-tes yang sesuai sehingga akan mendapat data/informasi mengenai potensi/gangguan client.
Kegunaan Psikodiagnostik:
- klinis: untuk memeriksa, meneliti potensi pada klien (fokusnya pada usaha mendeteksi gangguan psikis). Di rumah sakit & pusat-pusat kesehatan mental.
- legal setting (hukum): membantu proses peradilan agar supaya permasalahan psikologis yang dialami klien bisa menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Di peradilan, LP, tempat-tempat rehabilitasi.
- educational, vocational selection: pemilihan jurusan, rekruitmen, pemilihan pekerjaan.
- Research setting (penelitian): merupakan pengembangan termasuk up date alat2 penelitian. Di Perguruan Tinggi.
Tujuan Psikodiagnostik:
- Memperoleh informasi yang sebanyak-banyaknya; dalam aspek perkembangan intelektual, kepribadian, sosial, emosi. Dapat memahami kebutuhan individu secara optimal.
- Mengetahui kelemahan, keunggulan, agar kehidupannya dapat dimaksimalkan.
- Pemahaman terhadap individu merupakan sarana yang baik bagi keluarga untuk memberikan perlakuan yang tepat.
- Untuk penempatan pendidikan dan pekerjaan secara tepat.
- Untuk kepentingan bimbingan konseling.
- Sebagai bahan proses terapi bila dibutuhkan.
Kedudukan psikodiagnostik dalam psikologi:
- Psikologi differensial: membicarakan faktor-faktor yang menyebabkan adanya perbedaan individu dalam kelompoknya. (umur, lingkungan, pembawaan).
- Psikologi perkembangan: membicarakan rentang kehidupan manusia. (tes inteligensi).
- Psikologi industri: membantu dalam dalam rekruitmen, seleksi, placement.
- Penggunaan statistik: psikodiagnostik tidak berarti apa2 tanpa statistik.
PSIKODINAMIKA: (kumpulan anlalisis dari diagnosa).
- Pemahaman mengenai dinamika kepribadian individu sangat diperlukan untuk menyusun sistematika dari hasil diagnostik yang telah dilakukan.
- Kuat lemahnya ego yang dimiliki individu:→grafis
- Kemampuan menyesuaikan diri dalam masyarakat. (BAUM, DAM, HTP)
Proses dalam psikodiagnostik:
1. Proses Informal: tanpa ada proses prosedural, tidak obyektif karena hanya mengandalkan impresi (pesan) sesaat, dan intuisi.
Jenis kesalahan:
1) Penilai:
- desas-desus: menilai melalui omongan orang lain.
- Hello efek: kesan muncul pada saat sikap yang tampak pada orang yang akan dinilai. (senyum/cemberut, dll).
- Stereotype: berhubungan dengan unsure SARA →prasangka.
- Ingin memberikan kesan sikap lunak dan penuh toleransi: akibatnya ketepatan penilaian menjadi berkurang.
- Mood (suasana hati): suasana gembira / sedih menyebabkan ketidak tepatan oleh penilai.
- Proyeksi: proses penilaian ini dilator belakangi oleh pengalaman sebelumnya.
2) Yang dinilai:
- karakteristik kepribadian orang pendiam: penuh topeng, manipulatif
- kecenderungan menampilkan kesan yang sebaik-baiknya, sikap pura-pura
3) Situasi lingkungan:
- masalah waktu pelaksanaan yang tidak tepat
- tempat pelaksanaan
- fasilitas yang tersedia (alat tes)
- polusi (suasana bisisng, udara berdebu)
2. Proses Formal: adalah segala kegiatan yang sistematis dan terarah dalam proses assessment (pengumpulan data) dengan kendali yang cukup ketat atas situasi assesmentnya sehingga diperoleh data yang obyektif.
A. Pendekatan klinis: penggaliannya melalui wawancara yang terstruktur, interview yang mendalam, observasi secara langsung, dokumen pribadi. Perlu juga diberikan tes proyektif berupa gambar. → untuk landasan program terapi.
B. Pendekatan obyektif: penggalian potensi individu menggunakan alat-alat pemeriksaan.
Metode dan Teknik Psikodiagnostik:
Dalam melakukan suatu diagnosa psikologis ada beberapa urutan kerja yang harus diperhatikan:
1. Mengumpulkan dan mendapatkan data
2. Menganalisis data.
3. Mengambil kesimpulan, meliputi deskripsi subjek beserta diagnosa dan prognosa.
Garis Besar Penggunaan Psikodiagnostik:
a. Observasi: (partisipan/non)
b. Pengumpulan bahan-bahan permainan (barang pribadi, puisi, gambar)
c. Riwayat hidup:
- auto anamnesa : dari dalam diri individu
- allo anamnesa : dari luar diri sendiri
d. Angket / kuesioner
e. Wawancara
f. Test
Klasifikasi/Pengelompokan Tes Psikologis
Tes ini sangat banyak jenisnya sehingga untuk mendapatkan orientasi yang baik mengenai tes perlu dilakukan klasifikasi. Untuk membuat klasifikasi tes ditinjau dari beberapa segi. Dilihat dari banyaknya subjek yang dites, bisa dibedakan atas :
- Tes individual adalah jenis tes yang hanya dapat melayani untuk seseorang individu saja dalam satu waktu.contohnya test WISC dan WAIS.
- Tes kelompok adalah tes yang dapat melayani sekelompok testi dalam suatu waktu. Tes kelompok ini lebih ekonomis jika dibandingkan dengan tes individual sebab dalam waktu singkat dapat diperoleh banyak individu yang dites contohnya adalah ulangan-ulangan yang diberikan oleh guru, tes standar progresif matriks dan sebagainya.
Dari segi waktu yang disediakan dibedakan atas :
- Tes kecepatan (speed test) yaitu tes yang mengutamakan kecepatan waktu dalam mengerjakan tes atau waktu untuk mengerjakan tes sangat terbatas. Contoh jenis tes ini arithemitical reasoning, tes klerikal dan sebagainya.
- Tes kemampuan (power test) yaitu jenis tes yang dimaksudkan untuk mengetahui sampai dimana kemampuan seseoarng dalam mengerjakan tes. Soal waktu tidak dituntut terlalu ketat. Contoh jenis tes ini general comprehension test, tes SPM dan sebagainya.
Dari segi materi tes dibedakan atas :
- Tes verbal adalah tes yang menggunakan bahasa (baik lisan maupun tulisan). Karena itu orang yang dites harus bias membaca dan menulis.
- Tes non verbal adalah tes yang item-itemnya tidak terdiri dari bahasa,tetapi terdiri dari bahasa tetapi terdiri dari gambar-gambar,garis-garis dan sebagainya. Contoh jenis tes ini adalah tes CFIT, tes SPM, tes Army Beta dan sebagainya.
Dari segi aspek mental yang dites dibedakan atas :
- Tes kepribadian seperti tes Rorschah, wartegg dan sebagainya
- Tes intelegensi
- Tes bakat
- Tes prestasi belajar
Dari segi penciptanya :
- Tes Rorschah
- Tes Binet-simon
- Tes Wechsler
- Tes kraeppelin
- Tes kuder dan sebagainya
Jenis-jenis Tes Psikologi
1. Test WAIS (WSeeschler Intellegence Scale for Children)
Merupakan test yang digunakan untuk mengukur intelegensi seseorang dengan rentang usia 16-74 tahun. Kegunaan yaitu untuk Mental Deterioration (MD) yang mengalami penurunan perkembangan mental.
2. Test CFIT (Culture Fair Intellegence Test)
Digunakan untuk mengukur tingkat kecerdasan seseorang. Untuk membedakan tingkatan intelegensi, penetuan terapi yang benar serta program pendidikan sesuai karakter anak, dan hal-hal kepegawaian.
3. Test DAT (Differntial Applitude Test)
Test ini untuk mengukur bakat pada seseorang. Dapat membantu seseorang dalam membuat keputusan terhadap rencana-rencana baik kerja maupun sekolah, dapat pula untuk mendiagnosa masalah-masalah pendidikan pada anak.
4. Test Kuder Preference Record Vocational
Digunakan untuk mengukur minat seseorang sehingga bisa ditentukan kualifikasi jabatan yang sesuai dengan minat.
5. Test Lee-Thorpe
Merupakan test yang digunakan untuk membantu individu dalam inventori minat jabatannya.
6. Test EPPS (Edward Personality Preference Schedule)
Merupakan test yang digunakan untuk mengukur kepribadian seseorang.
7. Test Standford Binet
Merupakan test intelegensi yang sasaran utamanya adalah anak-anak dan balita. Dengan test ini, dapat diketahui usia mental seseorang, termauk juga untuk mengetahui indikasi kelainan mental dari tingkatan IQ yang rendah dan juga untuk mengetahui tingkat kemunduran mental yang dialami orang dewasa.
Sekian yang saya bisa tulis diblog ini, jika ada yang salah ataupun kurang baik tolong comment yaa :)

No comments:
Post a Comment